Blog Archive

Wednesday, May 8, 2019

ADAKAH KESUKSESAN SEMU


ADAKAH KESUKSESAN SEMU

“Kesuksesan bisa kasat mata,
tetapi tidak selamanya yang kasat mata itu sukses.”
(Sitikhusnul)

Ini adalah kisah nyata. Percaya atau tidak itu adalah hak Anda. Tetapi saya sangat yakin bahwa kisah ini benar  dan masih relevan bagi kehidupan kita. Kecerdasan Anda bisa mendata, menganalisa kemudian mengambil simpulan dengan baik. Selanjutnya semoga dapat mengambil pelajaran dari pengalaman para tokoh yang  yang anonim di bawah ini.
  Mereka sangat gigih dan memiliki segudang prestasi yang luar biasa di mata manusia. Pujian dan kehormatannya selama hidup tidak ada cela. Sungguh mereka hidup penuh  kenikmatan. Mereka meraih kesuksesan yang luar biasa dengan kenikmatas tersebut karena menggunakan kenikmatannya dinilai sukses di dunia.  Mereka benar-benar menjadi buah bibir perjalanan hidupnya dengan kelebihan yang dimiliki. Namun butiran apa yang menghalangi nilai kesuksesan tiga tokoh tersebut tidak dilihat oleh Sang Pencipta?
Dari abu hurairah Ra, ia berkata , aku mendengar Rasulullah bersabda. “ Sesungguhnya manusia yang pertama diadili pada hari kiamat adalah orang-orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia datangkan dan diperlihatkan kenikmatan yang diberikan di dunia, ia pun mengenalinya.
Allah bertanya kepadanya,”Amal apa yang kau lakukan dengan nikmat itu?”
Ia menjawab,” Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.”
Allah berfirman, “Engkau dusta!. Engkau berperang agar dikatakan sebagai orang yang pemberani. Memang demikian keadaan seperti yang dikatakan. Kemudian diperntahkan kepada malaikat untuk menyeret mukany tertelungkup, lalu dilemparkan ke neraka.
Berikutnya oang yang diadili adalah orang yang menuntut ilmu yang mengajarkan serta mengajarkan Al-Quran. Ia didatangkan dan diperlihatkan kenikmatan di dunia. Maka ia mengakuinya.
Kemudian Allah bertanya,”Amal apa yang kau lakukan dengan kenikmatan itu?”
Ia menjawab,”Aku menuntut imu serta mengajarkannya dan aku membaca Al-Quran karena Engkau.
Allah berkata, “Kamu dusta! Kamu menuntut ilmu agar dikatakan sebagai orang alim, kamu  membaca Al-Quran agar kau mendapatkan paggilan sebagai qori’ (ahli membaca). Memang begitulah yang dikatakan . Kemudian diperintahkan malaikat untuk menyeret atas mukanya dan dilempakan ke neraka.
Berikutnya a orang yang diadili adalah orang yang diberikan kelapangan rizki dan berbagai macam harta benda. Dia didatangkan dan ditampakan kenikmatan di dunia. Dia pun mengenalinya.
Kemudian Allah bertanya, “ Dengan amal apa kamu lakukan kenikmatan itu?”
Di menjawab,” Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan aku melakukan karena Engkau.”
Allah berfirman,” Engkau dusta! Kamu berbuat yang demikian agar kamu dikatakan sebagai orang yang dermawan dan begitulah yang dikatakan kepadamu, kemudian diperintahkan malaikat (agar) menyerretnya atas mukanya dan melemparkannya ke neraka.” ( Muslim, Kitabul Imarah , bab Man Qaatala lir Riya’ was Sum’ah Istahaqqannar (VI/47) atau juga dalam beberapa kitab.
Sahabat guru, saat Muawiyah mendengar tentang kisah ini. Dia berkata, “Hukuman ini telah belaku atas mereka, bagaimana dengan orang-orang sesudahnya? Kemudian dia menangis dan pinsan. Setelah siuman dia berkata: “Benar yang dikatakan Allah dan RasulNya.
Allah berfirman: ‘Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan  mereka di duna dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka. Lenyaplah di akhirat itu kecuali neraka yang mereka usahakan di dunia dan sia-sia apa yang mereka kerjakan (hud: 15-16) (H.R. Tirmidzi no 23832 dan Ibnu Khuzaimah no. 2482).
Ketiga tokoh tersebut kehidupan yang gemilang sukses setelah berjuang dengan segala kekuatan, segala ilmu dan segala harta benda yang dikorbankan dapat dinikmati oleh diri dan keturunanya di dunia. Sedang di akhirat sebagai kehidupan yang lebih panjang bahkan abadi tidak bisa dirasakannya. Nah mengapa Allah memberi mereka kesuksesan dengan kasat mata? Tentu saja segala apa yang Dia kehendaki adalah tanda-tanda kekuasanNya agar manusia cerdas menggunakan pikirannya dan ketajaman mata hatinya.
Sahabat guru, dalam kehidupan ini memang ada tiga kelompok status manusia yang memiliki kelebihan. Pertama, manusia yang Dia anugerahkan nikmat  sehat, kuat, gagah dan pemberani/memiliki jabatan atau power of people. Kelompok kedua adalah manusia yang dimuliakan Sang Pencipta dengan dianugerahkan ilmu, kecerdasan, kemampuan, prestasi dan setumpuk kejuaraan/ kemenangan sehingga menjadi motivator dan inspirator yang luar biasa kepada sesama. Yang ketiga adalah manusia yang  diberikan kelapangan rizki dan  dan kekayaan yang melimpah.  Dengan kelebihan yang luar biasa mereka gunakan nikmat itu untuk kemanfaatan.
Masing-masing kelebihan dapat dinikmati oleh diri dan orang lain. Yang gagah bisa membela dengan kekuatannya, yang pandai  bisa berbagi ilmu, yang kaya bisa berbagi harta. Tetapi di balik itu semua kenikmatan itu  hangus karena tidak didasarkan pada iman yang benar  juga tiadak ada niat karena Allah dan semangat untuk mencari Ridha Allah. Hal ini dipandang sangat penting olehNya. Dan tentu saja Allah Maha melihat keadaan tiap individu baik lahir maupun batinnya. Karena memang Dia Maha Melihat lagi Maha mengetahui hati yang bersih dan hati berdebu (kesalahan kecil tetapi fatal).
Hati berdebu dengan bermacam-macam nama. Riya atau pamer  itu dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan kebaikan di depan orang lain sesungguhnya tidak baik. Dalam hal ibadah bila seseorang melakukan ibadah/ mendekatkan diri kepada Allah tetapi tujuannya bukan mencari keridhaan Allah melainkan tujuannya adalah dunia. Seperti mencari posisi di hati manusia, mencari perhatian atau mencari pujian sesama. 
Selain Riya ada sum’ah dan ujub.  Sum’ah yakni memperdengarkan kebaikannya karena manusia memujinya. Atau bangga dengan kemampuannya karena mendapatkan nama di depan orang  lain. Sedangkan Ujub atau kagum dan bangga diri/ sombong terhadap kemampuan diri atas yang ada bisa kekuatan, kemampuan atau kekayaan yang dimiliki. Dia tertipu oleh kelebihannya yang sesungguhnya itu hanya sebatas titipan dan ada sementara di dunia saja. Sedang kehidupan berikutnya lenyap tanpa ada manfaat. (Semoga kita dijauhkan dari yang demikian, aamiin).
Sahabat guru, kita memiliki kemampuan sebagai guru dengan ilmu yang terus bertambah. Kita menjadi guru yang mampu berkarya dan kita menjadi guru yang bersahaja, memiliki kecukupan materi sehingga menikmati hidup yang sejahtera. Kita juga berharap kehidupan rumah tangga dalam kedamaian dan kesejukan laksana indahnya taman. Anda juga  memiliki segudang karya, setumpuk prestasi dan sebanyak  mungkin keberhasilan yang terukir yang mengharumkan nama diri, nama sekolah, nama daerah bahkan nama bangsa dan Negara.
Itu semua bukan tujuan tetapi kenikmatan yang wajib disyukuri.  Sehingga Sang Pencipta menambah nikmat sesuai janjiNya. Tujuan utama segala kegiatan yang  dilakukan yang benar adalah mencari Ridha Allah. Kita Rindu kepadaNya untuk bisa bertemu pada hari yang indah kelak. Sehingga kita bersungguh-sungguh meluruskan niat dengan hati yang bersih. Kita bekerja dengan mengeluarkan segala kemampuan  itu karena Allah, untuk Allah dan sesuai dengan peraturan Allah.
Sahabat guru, waktu dan tenaga kita yang setiap hari andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa ini semoga tidak sia-sia. Sekalipun upah yang diterima terhitung kecil di mata manusia tetapi membawa keberkahan bagi rizki kita dan keluarga. Pasangan hidup dan anak-anak kita tercatat sebagai orang yang shalih/ shalihah di mataNya. Alangkah indahnya bila kita mampu menumbuhkan rasa percaya diri untuk menjadi guru yang sebenarnya. Guru yang hebat mampu berkarakter, berilmu, berprestasi dan terus belajar.
Jangan ada keluh kesah lantaran ada kekurangan. Banyak jalan untuk mencari solusi. Semoga bola dunia itu tidak kita taruh di atas kepala. Karena selain menjadi beban juga menutup cahaya menerobos dalam jernihnya pikir serta hati. Karena semua telah ada garis kehidupan yang pasti dan juga tempat kembali. 
Kita berharap juga memiliki umur yang berkah, semakin bertambah semakin merunduk pada Sang Pemilik. Usia yang diberikan untuk mempersiapakan bekal kehidupan akhirat yang bahagia. Sehingga tidak ada kebohongan dan kepalsuan atas kenikmatan yang kita peroleh. Kita berharap dengan tulus ihlas andil mencerdaskan kehidupan bangsa ini menjadi amal shalih.  Segala manfaat dan kebaikan darinya menjadikan hidup lebih bahagia. Proses dan hasil yang ada dapat  bernilai  ibadah yang mengalir pahalanya kelak. Semuanya  mampu melonggarkan alam penantian dan meringankan beban siksa karena kelalaian, karena kesalahan dan karena dosa-dosa yang melekat pada diri kita. Tetap semangat untuk meraih kebahagiaan hari ini dan esok.
 Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S.Al Hasyr 59: 18).







Wednesday, April 18, 2018

senja menjelang malam


SENJA MENJELANG MALAM

Rona senyummu di kala musim kemarau indah memancar
Semua mata memandang pertanda rizki kan datang
Panas menyengat pancaran energi merasuk dalam seluruh jiwa
Beraturan  beredar dalam lintasan kepastian hingga senja kan menjelang

Mentari condong hingga bersinar pelan di ufuk barat sana
Semburat kemerahan beriring makhluk halus ramai berkeliaran
Meminta pintu rumah jangan terbuka nanti bisa mereka bersinggasana
Anak Adam di anjurkan berlindung pada Sang Pencipta mmpung hari masih senja

Senja
Kesempatan insan lemah berkemas
Menata perangkat untuk lega bernafas
Melepas maksiyat berubah bisa mendekat

Senja tiba malam kan menjelang
Tak mungkin lari dari kepastian
Sudahkah kita siap menerima kehadiran malam?
Malam yang terus meradang mengantarkan lepasnya mata memandang alam.

Malam yang tak lagi ada mimpi indah
Malam memutuskan canda, tawa juga kebebasan
Malam yang tak lagi datang senja berulang
Malam berteman dengan segala amal

Lombok Timur, 19-04-2018




 

Tuesday, April 10, 2018

RINDU SENYUM GURUKU






 RINDU SENYUM GURUKU





Pagi ceria  mataku  tak berkedip
Memandang bayangan cermin  terpadu rapi dan maching
Mimpi mimpiku  melangit
Hati berbunga serasa dunia ini milikku sendiri

Terukir harapan menjadi diri yang berguna
Sarjana Pendidikan melengkapi papan nama
Buku dan pena kan kubawa
Sampai tujuan  senyum salam sapa dan gembira

Mereka adalah  kertas kertas tak berwarna
Titik dan garis mulai menghias
Membekas  menembus batas
Hingga tampak warna dan bentuk yang jelas

Sampai suatu waktu  di antara mereka  
Menyandang gelar dan panggilan  yang sama
Aku sadar senja pasti tiba
Tak layak menutup prestasi anak muda

Ucapku perlahan dalam keheningan malam bersama  linangan air mata
Saat itu aku tak mengenal huruf mapun angka
Jari lembutmu diatas jariku yang kaku memegang pena hingga aku bisa
Kelembutanmu   mengantarkan aku bisa membaca,  menggambar dan berkarya
Upah kecil mencukupi kehidupan tampak pada baju sepatu sederhana
Kau guru mendidikku sepenuh hati dan jiwa raga

Zaman  maya merubah warna senyuman
Walau duduk bersama tiada   senyum menawan
Guru muda lebih suka bercanda dengan dunia maya
Kemana  senyummu  kenapa  sibuk seminar dan hanya menagih pintar ?
Kadang aku membaca tak jauh beda gaya selebretis manca negara
Kadang juga lembaran rupiah saja yang ditanda

Aku sempat bertanya pada bocah bocah, senyum mana yang kau rindukan ?
Senyum guru yang membuat harapanku terwujud, jawabnya
Senyum guru yang penuh  inspirasi, jawabnya
Senyum guru yang membalut semua luka, jawabnya
Senyum guru yang mengajak aku ingat Yang Maha Hidup, jawabnya
Senyum guru yang  tulus saat aku di sekolah  maupun di tidak, jawabnya

Guru muda guru penuh semangat kebangkitan
Bahtera berlayar   mengantarkan diri dan bocah menuju cita
Indahnya negeri tampak dari lukisanmu
Harumnya badan tercium dari aromamu
Sejuknya udara ada campur nafasmu
Emasnya Indonesia berawal dari  pikiranmu


#antologi guru











KELABU TAK SELAMANYA KELABU


KELABU TAK SELAMANYA KELABU


Kupandang pelangi dari jendela mata tak berkedip
Warna warni bukan goresan pensil berlatar asri menjulang tinggi
Setengah lingkaran  terlukis tanpa jangka seakan dunia yang termilikinya
Burung burung riang  terbayang indahnya negeri tetangga

Ku menunduk oh negeriku
Lantai kelabu  sembunyi debu membuat pilu
Kaca jendela rompang   tak berselambu
Angin menerobos kadang menambah flu

Aku tetap tersenyum walau sebenarnya pilu
Sekolah dan negeriku kelabu dan berdebu
Bocah bocah ini  bibit bibit unggul butuh dipacu
Berkubang  warna  kelabu

Kataku dalam hati
Guru mengapa sekolah dan negeri ini kelabu ?
Berapa waktumu sehari apa yang terjadi ?
Kalau hanya rupiah yang kau nanti lelah tanpa arti

Guru , agar senyummu bermakna
Semikan batang cinta penuh bahagia
Rasakan cukup apa yang kau terima
Tidak minta kepada  selain-NYa

Guru
Agar senyummu mekar sepanjang hari
Jadilah diri sendiri mengukir prestasi
Mandiri
Bening
Impikan  emas menaburi bumi

Guru
Lihatlah cahaya baru
Kelabu tak bermakna kelabu
Bocah bocah kan menyalakan cahaya di hatimu
Bersama senyum dan lukisanmu  kan terhapus  warna kelabu 
Sekolah dan negeriku bagai pelangi di matamu


Husnul
#antologipendidikan






















BUMI






                                    BUMI TEMPAT  AKU BERKARYA

Dentuman keras  pembelahan suatu planet raksasa  pertanda  hari jadimu
Kau berpasangan dengan langit biru nan ceria
Lumut dan perdu menyelimuti wajah  nan  suci
Gunung gunung meninggi bak pasak kekuatan kau  berdiri

Mata air nan jernih gemericik,  menyapa   alam berseri, menyirami biji
Sepi dari pertikaian , permusuhan bahkan  pertumpahan darah
Kau terhampar luas tempat Ayah Bunda  melepas syurga pertama
Dan  kau  tahu diri  tak  sanggup   menjadi pengemban amanah risalah Illahi

Aku dan semua tak mengenali usiamu yang sebenarnya
Wajahmu kusam penuh asap dan debu
Kulitmu keriput , kering karena pepohonan telah hilang
Perutmu tak elok karena logam  mulia   telah terangkat entah kemana
Tulangmu  mengeropos  karena terekploitasi cairan   dari  sari sumsummu
Kau demam karena  tiupan angin kencang   menerpa tubuhmu silih berganti

Bumi
Kau tempat  aku dan semua  berkarya
mengukir indah kehidupan, mengekpresikan kemahiran
Kau tempat  aku dan semua  berlari mengejar impian
Namun aku dan semua menumbuhkan  kegalauanmu
Menambah lukisan   kerut wajahmu, mengundang  kegelisahanmu

Hingga kau meluapkan amarah dengan gerakan misterimu
Kau menangis dan menjerit  mengundang empati  untuk  peduli
Kau keluarkan cairan perut hingga membanjiri banyak negeri
Kau  berkipas hingga bangunan terhempas
Kau  meronta hingga gempa luluh lantahkan kota
Kau mengaung menggetarkan ribuan jiwa

Bumi
Maafkan aku dan semua
Walau terlanjur salah aku dan semua mengerti pentingnya dirimu
Walau terlanjur luka aku meminta  minumlah obat agar kau kembali sehat
Walau terlanjur menderita  hijaulah  permukaanmu lantaran tanaman  didapat
Kencangkan kembali kulitmu lantaran terpelihara kembali mata air 

Bumi
Kuatkanlah tubuhmu lantaran semua ini
Tahanlah gejolak gerakmu  walau peluru dan meriam menembusmu
Tahanlah untuk selalu  serasi  pertanda masih ada hari
Aku dan semua smoga bisa  menjaga dan merawat  hingga akhir nanti
Agar aku dan semua lega di hari pertanggung jawaban nanti

Lombok Timur,  Des 2017






 

 





Monday, April 9, 2018

KELUARGA DAN KARAKTER MULIA



KELUARGA DAN PENDIDIKAN KARAKTER

Sering kita mendengar atau berkata tentang ‘keluarga’. Keluarga besar, keluarga sejahtera, keluarga bahagia, keluarga idaman, pendidikan keluarga, taman keluarga ,  atau keluarga berantakan. Frase itu memiliki pengertian sesuai semesta pembicaraannya. Sebelum kita berbicara pada tema ‘pendidikan keluarga’ kali ini, ada baiknya kita ketahui arti kata ‘keluarga’ terlebih dahulu. Keluarga menurut KBBI adalah(1) ibu dan bapak beserta anak-anak;  seiisi rumah (2) adalah orang seiisi rumah yang menjadi tanggungan ;batin.
Sedang dalam istilah, keluarga memiliki beberapa pengertian. Misalnya menurut M. Shalih Karim (2012), keluarga adalah unit terkecil dari susunan kelompok masyarakat berupa pasangan suami istri, mempunyai anak atau tidak mempunyai anak.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah masyarakat terkecil yang memiliki otonomi dan keberadannya tidak bisa dipisahkan dengan masyarakat yang lebih luas. Keluarga

 merupakan inti dari keberadaan masyarakat. Keluarga memiliki peran sebagai sebagai tempat berbagi suka, duka, kasih sayang, perhatian, kenyamanan, rasa takut atau hawatir, dan sebagainya.
Keberadaan keluarga ini tentu saja melalui sebuah perencanaan dari orang-orang sebelumnya. Dan tidak terepas dengan perencanaan Sang Maha Pencipta. Adam as bertemu dengan Ibu Hawa dan memiiki beberapa anak yang kembar, sehingga anak-anak melangsungkan kehidupan dengan berkeluarga. Hingga manusia naman now bahkan jaman akhir nanti akan mengalami beberapa persamaan.
Mereka memiliki nafsu biologis yang alami. Mereka saling membutuhkan, dan mereka memiliki rasa kecenderungan terhadap seseorang. Sebuah contoh Ali sudah berusia 25 tahun, hatinya gelisah sepanjang waktu. Dia tidak tahu apa penyebab utamanya. Dia sampaikan kegelisahannya ini kepada orang tuanya. Maka orang tua dapat membantunya. Orang tua ikut memikirkan masalah putranya. Berbagai cara mereka mencari informasi, akhirnya Ali ditawarkan dengan sebuah solusi untuk menikah. Ali mengungkapkan kecenderungannya untuk menikahi wanita yang dia kenal. Dikuatkan dengan istiharaah (doa meminta pilihan yang tepat), Ali dapat menikah dan bahagia.
Berbeda dengan Cecep yang sangat cenderung mencintai Feny. Mereka saling mengenal dan sangat akrab. Keluarganya saling mendukung. Lima tahun kemudian mereka menjadi orang ‘sukses’. Perekonomian sangat bagus, mereka cerdas dan berprestasi dalam dunia karier. Mereka menikah, pesta besar dan luar biasa ramainya.  Tetapi tidak sampai satu tahun  umah tangga mereka berantakan. Mereka bercerai dan  
Mengapa dua hal di atas dapat terjadi? Rumah tangga adalah tempat unik untuk saling menentramkan anggotanya. Bukan sekedar untuk melepaskan angan angan belaka. Anggota keluarga memiliki hak dan kewajiban yang saling menentramkan. Mereka memiliki kemauan yang sungguh-sungguh untuk mendahulukan  kewajiban dari pada hak. Sehingga mereka mampu menghadapi tantangan dan hambatan yang kadang tidak disangkanya.
Keluarga yang diidamkan biasanya sering disebut dengan ‘keluarga sakinah’. Sakinah artinya rasa tentram dan damai, terpenuhi unsur hajat hidup spiritual dan material secara layak dan seimbang. Keluarga  sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material yang layakdan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarganya dan lingkunganna secara selaras, serasi, serta mampu mengamalkan, menghayari dan memperdalam nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia.(M. Salih Karim:2012).
Dalam keluarga sakinah, masing-masing anggota dapat meyakinkan dirinya bahwa sesuatu yang telah terjadi adalah ada yang mengaturnya. Mereka saling menerima dan siap menghadap ketentuanNya. Mereka gigih menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya arena yakin semuanya akan menaatkan balasan di masa akhirnya kelak.
Dalam keluarga sakinah bukan berarti tidak ada tangtangan. Tetapi masalah yang timbul dapat diselesaikan. Mereka mengakui hokum kausatif atau sebab akibat. Sehingga intropeksi diri/ mawas diri untuk menemukan kesalahan diri  menjadi sifat yang melekat pada kepribadiannya. Bukan sebatas menyesali kesalahannya, tetapi mereka berupaya memecahkan masalahnya dengan menciptakan iklim komunikatif yang kondusif.
Mereka komunikatif. Mereka mudah bermusyawarah dan komitmen dalam menjalankan keputusan bersama. Mereka bisa saling berbagi pendapat dan menghargainya. Bagi seorang istri yang dikaruniai berpikir lebih  bagus tidak tampak mendekte suaminya, tetapi mampu mengekspresikan kelebihan pikirannya dengan baik dan menghornati suamiya. Bagi suami yang tegas dapat santun mengemukakan ketegasannya untuk kebaikan bersama.
 Mereka saling menghargai segala kelebihan dan menerima kekurangannya. Sehingga bisa menjalankan kesepakatan yang dibuat bersama dan melangkah untuk menggapai cita yang diharapkan. Kelebihan anggota keluarga dapat dijadikan peluang untuk menggapai tujuan bersama. Sedang kekurangannya dapat dijadikan peluang untuk perbaikan bersama.
Mereka saling percaya. Satu sama lain memiliki rasa amanah terhadap diri dan yang lainnya. Masing-masing diri dapat menunjukkan kejujurannya dalam perkataan maupun perbuatan. Sehingga rasa saling curiga dan tidak percaya dapat tersingkirkan secara alami. Mereka menjaga diri dari terjerumusnya perkataan atau perbuatan yang merugikan. Mereka tidak memupuk bohong dan atau perselingkuhan dalam berbagai urusan.
Keluarga sakinah itu anggotanya terdidik. Terdidik bermakna selalu berproses dalam upaya sengaja mendewasakan semua anggota keluarga. Proses ini telah direncanakan  dengan baik. Dari mereka sebelum menikah teah memiliki konsep idial tentang pasangannya. Tentang mensikapi kekurangan dan kelebihan pasangannya. Tentang unt menerima kehadiran buah hatinya. Tentang cara membangun dan mempertahankan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.
Keluarga yang terdidik, masing masing orang dewasa yang ada di dalamnya mendidik diri terlebih dahulu sebelum mendidik orang lain. Keberhasilan mendidik adalah adanya perubahan diri dan juga perubahan yang dididik. Sehingga subyek dan obyek pendidikan sama-sama mengalami perubahan ke arah positif. Mereka komitmen dan konsisten menerapka aturan pendidikan pada keluarganya.
Orang dewasa pertama adalah kepala keluarga yaitu suami. Dia berperan sebagai top maneger. ‘Lelaki adalah peminpin bagi perempuan’. Orang dewasa kedua adalah istri. Dia memliki tugas pokok sebagai pengurus harian di bawah suami. Dia pendamping suami dalam suka maupun duka. Dia sayap kanan, agar suami dapat terbang meraih kebahagiaan. Dia tempat melepas kepenatan dan kegalauan. Dan seorang istri harus sanggup 24 jam berada di bawah kaki suami. Dia tunduk patuh dan taat terhadapnya setelah tunduk, patuh dan taat Sang Maha Pencipta dan RasulNya.
Kedua orang dewasa ini telah siap mendidik sepenuh hati kepada putra putrinya. Mereka mendidiknya sejak dalam proses pembuahan. Saat kelahirannya di dunia fana. Saat balita dan seterusnya  hingga dewasa atau sampai mereka membentuk keluarga baru.

Bagaimana mereka mendidik?

Mendidik merupakan suatu upaya mengantarkan anak didik ke arah  kedewasaan baik secara rohani maupun jasmani. Mendidik  dapat bermakna  upaya  pembinaan  pribadi, sikap mental dan ahlaq anak didik. Mendidik merupakan tranfer of kwowledge sekaligus transfer of values. Mendidik juga bermakna  mengajak (memotivasi, mendukung, membantu, menginspirasi ) orang lain untuk melakukan tidakan positif yang bermanfaat bagi diri dan orang lain serta lingkungan. Mendidik juga merupakan proses  membuat proses tunas berkembang  baik menjadi besar, sehingga awal pendidikan merupakan proses perjalanan hidup di masa yang akan datang.
Pendidikan keluarga diawali dari dini. Yaitu saat anak dalam proses pembuahan. Agama apapun mengajarkan tata cara perkawinan yang syah. Perkawianan ini merupakan batas haramnya pergaulan calon suami dan calon istri menjadi halal. Mereka menjadi pasangan  suami –istri yang sah. Perkawinan eupaka ikatan sakral yang memerlukan bukti. Ada saksi dan juga sangat perlu ada hitam di atas putih.
            Perkawinan menghalalkan terobosan untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu mereka sejak sebelum mempertemukan calon janin terlebih dahulu berharap kepada Sang Pencipta. Mereka membaca doa sesuai keyakinannya masing-masing. Khususnya dalam ajaran Islam ada doa yang dicontohkan oleh Nabi besar Muhammad SAW.


            Saat sang istri hamil, suami terus mendidik dan menstabilkan perubahan emosinya. Wanita mengalami banyak perubahan, terutama hormone kehamilan.(Hormon HCG= Human Chorionic Gonadotrophin, HPL= Humaan Placental Lactogen,Relaxin, Estrogen, Progesteron dan MSH= Melanocyte Stimulating Hormone). Dia juga mengalami  dan perubahan psikologis serta perubahan bentuk fisik. Hal ini memerlukan upaya untuk selalu bahagia baik dari diri sendiri maupun dari orang terdekatnya.
Sejak saat itulah suami mulai andil mendidik anak melalui kejiwaan istri. Sedang  sang istri adalah menjadi guru bagi buah hatinya. Hatinya, fisiknya, pikirannya mulai terfokus pada janin.  Keadaan jiwa raganya mulai dirasakan oleh janinnya. Lelah, lapar maupun kesal janin ikut merasakan. Demikian juga bahagia, cukup nutrisi dan cukup istirahat ikut pula dirasakan oleh janinnya. Makanan janin mengambil dari badan istri. Kemanpun istri bergerak janin selalu menempel pada perutnya. Ucapan yang dilahirkan maupun disembunyikan sang istri bayilah yang menjadi pendengar setia selain Sang Maha Pencipta. Sang janin merekam  kuat dalam memori serta bentuk pola perkembangannya dan pertumbuhannya.
Dalam proses kelahiran, ibu bejuang dengan jiwa raga. Suami sangat layak memberikan suport dan juga memaafkan semua kesalahan istri agar proses melahirkan lebih mudah. Tetapi jika suami tidak ada di tempat karena urusan yang dapat dipertanggung jawabkan maka suami bisa meminta maaf dan meminta bantuan kepada saudara untuk memberikan motivasi kepada istri dan keluarganya. Agar tidak ada kesedihan dan juga kesalah pahaman tentang dirinya.

Saat bayi lahir mereka memperdengarkan kalimat terbaik seperti suara adzan dan iqomah pada telinga kanan dan kirinya. Mereka melakukan amalan sebagaimana Rasul mencontohkannya. Ada pemberian nama yang baik, ada aqikah, ada memotong rambut dan ada sodakoh.
            Suami istri, kini telah dipanggil sebagai Bapak dan Ibu. Mereka melindungi dengan penih kasih sayang. Rasa sentuhan udara yang berbeda dan pendengaran serta penglihatan mulai dia alami. Foler rekamnnya aktif baik dalam keadaan terjaga maupun tidur. Asupan ASI tetap mengalir dari ibu. Maka bayi mulai tumbuh dan berkembang.
            Bayi menjalani masa pendidikan bersama keluarga. Siapapun orang di dekatnya akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Tanggung jawab utama ada pada ibu yang berinteraksi langsung dan lebih dominan terhadapnya. Berat memang bagi seorang ibu.

Proses Pendidikan itu dari mana?

Ibu adalah sekolah utama. Pepatah  bahasa Arab mengatakan al ummu madrosatul uula iza a’dataha a’data sya’ban thoyyibal a’roq. Artinya Ibu adalah madrasah awal bagi anak , bila engkau mempersiapkannya  maka engkau telah  mempersiapkan generasi terbaik. Kalimat tersebut tersirat makna dari seorang ibu yang berkarakter  mulia akan melahirkan anak yang berkarakter  mulia, bila diberikan padanya  proses pendidikan yang mulia juga.
Para tokoh pendidikan dan psikolog menemukan masa emas anak adalah pada usia ….Usia ini anak-anak masih dalam asuhan orang tua bukan ? Mereka membutuhkan perhatian yang cukup dalam segala aspek. Stimulan untuk merangsang pertumbuhan aspek mental, sosial, moral, fisik, intelektual dan lainya harus cukup diterimanya. Agar pertumbuhan dan perkembangan tumbuh positif dan kuat.
            Mereka memasuki lingkungan pendidikan keluarga. Bagaimana mereka berbicara, bagaimana mereka makan, bagimana mereka menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.  Sikap mereka mencerminkan sikap orang tua. “Air bercucuran atap jatuh ke pelimbahan juga’. Sehingga orang tua bisa bercermin diri terhadap anak. Bahasa dan sikap anak ketika mereka berada pada lingkungan lain adalah hasil proses pendidikan dalama keluarga.
            Orang tua tentuya tidak berpikir untuk melepaskan tanggung jawab pendidikan kepada pihak lain. Misalnya di rumah ada asisten rumah tangga, mereka cukup mengandalkannya untuk mengasuh anak sepenuhnya. Di playgrup atau PAUD atau TK mereka serahkan kepada guru. Dan masa SD dan SMP merekalepas begitu saja. Karena asisten rumah tangga dan guru di sekolah bukanlah penangung jawab utama terhadap pendewasan mereka. Orang tua haruslah menyempatkan diri menemani anak-anak dengan keteraturan dan perhatian sepenuh hati.
            Menjadi bahan renungan bersama, waktu dan bentuk perhatian kepada anak. Asisten rumah tangga bisa jadi memperhatikan anak asuhnya bila orang tuanya ada di sampingnya. Sedangkan saat orang tua jauh darinya, mereka kadang lebih asyik dengan pekerjan lainnya. Sehingga belum tentu perhatian yang diberikan itu sesuai dengan yang kita harapkan. Contoh kasus cukup mengerikan di sekitar kita. Babby sister menyiksa bayi majikannya http://m.tribunnews.com/2008/01/29. Dan lain sebaginya cukup banyak kasus yang terjadi.
            Jaman now, yang dominan dengan kemajuan alat komunikasi yang canggih juga tidak berarti semua sibuk dengan gadgednya masing-masing.  Janganlah terjadi  suasana aneh di rumah kita. Mata tak berkedip, telinga tak mendengar bakan hati tidak terespon dengan panggilan orang tua bagi anak. Atau orang tua lebih memperhatikan handpone dan mengejar uang tanpa menghiraukan tangis dan ungkapan anak.
            Orang tua janganlah meniru kasus masa lalu yang menjadi catatan sejarah pada masa Umar Ibnul hottob. Orang sudah kebingungan menghadapi tingkah laku anaknya. Namun ternyata kesalahan utama adalah pada diri orang tua tersebut.
            Dalam satu riwayat dikisahkan ada seorang Bapak  dan anaknya  yang menemui Kholifah Umar Ibnul Khottob kemudian mengadukan tentang anaknya yang durhaka . Kemudian  Kholifah Umar menegur si anak.
Umar Ra:  “tidakkah kamu tau bahwa durhaka kepada orang tua merupakan hal yang mengundang murka ALLah?  bisa membuat kerugian yang besar ?”.
 Anak : “Wahai Amirul Mukminin, jangan tergesa gesa mengadiliku, jika seorang ayah mempunyai hak terhadap anaknya, bukankah anak juga punya hak terhadap ayahnya ?”.
Umar Ra : “ya benar “
Anak     : “apa hak anak terhadap ayah , wahai amirul mukminin ?”
Umar ra : “ada tiga, yaitu  p ertma hendaklah  ia memilih  calon ibu yang baik bagi putranya, kedua, henhaklah ia menamainya dengan nama yang baik, dan yang ketiga hendaklah ia mengajarkan Alquran.”
Anak : “Wahai amitrul mukminin , ayahku tidak melakukan satupun dari tiga hal tersebut.
            Ia tidak memilih calon ibu yang baik bagiku, ibuku adalah seorang hamba sahaya yang buruk yang dibeli dipasar seharga dua dirham (semodel pelacur). Setelah lahirpun ayah menamaiku -Ju’al.(sejenis kumbang yang yang berkubang pada kotoran ) dan dia tidak pernah mengajariku al Quran walau satu ayatpun.”
Umar Ibnul Khottob ra menghampiri ayahnya dan berkata “Engkaulah yang mendurhaikanya sewaktu ia kecil, pantaslah kalau anak itu  mendurhaikaimu sekarang.”

            Demikian juga di sekolah. Jika komunikasi orang tua siswa dengan pihak sekolah berjalan baik, maka anak akan mendapatkan perhatian dari kedua belah pihak dengan baik. Jika ada masalah pada anak maka akan lebih cepat dapat terselesaikan oleh keduanya. Tetapi jika orang tua hanya menyerahkan kepada sekolah, sangat dimungkinkan anak akan mencari pehatian ke tempat lain. Mereka dapat membentuk kelompok kelompok tertentu. Kelompok ini adakalanya positif dan ada kalanya negatif. Bahayanya jika kelompok yang diikutinya adalah negatif, maka suatu saat orang tua akan merasakan dampaknya. ‘Anak polah bopo kepradah’.
           
           


 



BERCERITA MENYENTUH BANYAK ASPEK

BERCERITA MENYENTUH BANYAK ASPEK Setiap orang tua yang sehat mendambakan putra putrinya memiliki masa depan yang cerah. Be...