Blog Archive

Wednesday, May 8, 2019

ADAKAH KESUKSESAN SEMU


ADAKAH KESUKSESAN SEMU

“Kesuksesan bisa kasat mata,
tetapi tidak selamanya yang kasat mata itu sukses.”
(Sitikhusnul)

Ini adalah kisah nyata. Percaya atau tidak itu adalah hak Anda. Tetapi saya sangat yakin bahwa kisah ini benar  dan masih relevan bagi kehidupan kita. Kecerdasan Anda bisa mendata, menganalisa kemudian mengambil simpulan dengan baik. Selanjutnya semoga dapat mengambil pelajaran dari pengalaman para tokoh yang  yang anonim di bawah ini.
  Mereka sangat gigih dan memiliki segudang prestasi yang luar biasa di mata manusia. Pujian dan kehormatannya selama hidup tidak ada cela. Sungguh mereka hidup penuh  kenikmatan. Mereka meraih kesuksesan yang luar biasa dengan kenikmatas tersebut karena menggunakan kenikmatannya dinilai sukses di dunia.  Mereka benar-benar menjadi buah bibir perjalanan hidupnya dengan kelebihan yang dimiliki. Namun butiran apa yang menghalangi nilai kesuksesan tiga tokoh tersebut tidak dilihat oleh Sang Pencipta?
Dari abu hurairah Ra, ia berkata , aku mendengar Rasulullah bersabda. “ Sesungguhnya manusia yang pertama diadili pada hari kiamat adalah orang-orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia datangkan dan diperlihatkan kenikmatan yang diberikan di dunia, ia pun mengenalinya.
Allah bertanya kepadanya,”Amal apa yang kau lakukan dengan nikmat itu?”
Ia menjawab,” Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.”
Allah berfirman, “Engkau dusta!. Engkau berperang agar dikatakan sebagai orang yang pemberani. Memang demikian keadaan seperti yang dikatakan. Kemudian diperntahkan kepada malaikat untuk menyeret mukany tertelungkup, lalu dilemparkan ke neraka.
Berikutnya oang yang diadili adalah orang yang menuntut ilmu yang mengajarkan serta mengajarkan Al-Quran. Ia didatangkan dan diperlihatkan kenikmatan di dunia. Maka ia mengakuinya.
Kemudian Allah bertanya,”Amal apa yang kau lakukan dengan kenikmatan itu?”
Ia menjawab,”Aku menuntut imu serta mengajarkannya dan aku membaca Al-Quran karena Engkau.
Allah berkata, “Kamu dusta! Kamu menuntut ilmu agar dikatakan sebagai orang alim, kamu  membaca Al-Quran agar kau mendapatkan paggilan sebagai qori’ (ahli membaca). Memang begitulah yang dikatakan . Kemudian diperintahkan malaikat untuk menyeret atas mukanya dan dilempakan ke neraka.
Berikutnya a orang yang diadili adalah orang yang diberikan kelapangan rizki dan berbagai macam harta benda. Dia didatangkan dan ditampakan kenikmatan di dunia. Dia pun mengenalinya.
Kemudian Allah bertanya, “ Dengan amal apa kamu lakukan kenikmatan itu?”
Di menjawab,” Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan aku melakukan karena Engkau.”
Allah berfirman,” Engkau dusta! Kamu berbuat yang demikian agar kamu dikatakan sebagai orang yang dermawan dan begitulah yang dikatakan kepadamu, kemudian diperintahkan malaikat (agar) menyerretnya atas mukanya dan melemparkannya ke neraka.” ( Muslim, Kitabul Imarah , bab Man Qaatala lir Riya’ was Sum’ah Istahaqqannar (VI/47) atau juga dalam beberapa kitab.
Sahabat guru, saat Muawiyah mendengar tentang kisah ini. Dia berkata, “Hukuman ini telah belaku atas mereka, bagaimana dengan orang-orang sesudahnya? Kemudian dia menangis dan pinsan. Setelah siuman dia berkata: “Benar yang dikatakan Allah dan RasulNya.
Allah berfirman: ‘Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan  mereka di duna dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka. Lenyaplah di akhirat itu kecuali neraka yang mereka usahakan di dunia dan sia-sia apa yang mereka kerjakan (hud: 15-16) (H.R. Tirmidzi no 23832 dan Ibnu Khuzaimah no. 2482).
Ketiga tokoh tersebut kehidupan yang gemilang sukses setelah berjuang dengan segala kekuatan, segala ilmu dan segala harta benda yang dikorbankan dapat dinikmati oleh diri dan keturunanya di dunia. Sedang di akhirat sebagai kehidupan yang lebih panjang bahkan abadi tidak bisa dirasakannya. Nah mengapa Allah memberi mereka kesuksesan dengan kasat mata? Tentu saja segala apa yang Dia kehendaki adalah tanda-tanda kekuasanNya agar manusia cerdas menggunakan pikirannya dan ketajaman mata hatinya.
Sahabat guru, dalam kehidupan ini memang ada tiga kelompok status manusia yang memiliki kelebihan. Pertama, manusia yang Dia anugerahkan nikmat  sehat, kuat, gagah dan pemberani/memiliki jabatan atau power of people. Kelompok kedua adalah manusia yang dimuliakan Sang Pencipta dengan dianugerahkan ilmu, kecerdasan, kemampuan, prestasi dan setumpuk kejuaraan/ kemenangan sehingga menjadi motivator dan inspirator yang luar biasa kepada sesama. Yang ketiga adalah manusia yang  diberikan kelapangan rizki dan  dan kekayaan yang melimpah.  Dengan kelebihan yang luar biasa mereka gunakan nikmat itu untuk kemanfaatan.
Masing-masing kelebihan dapat dinikmati oleh diri dan orang lain. Yang gagah bisa membela dengan kekuatannya, yang pandai  bisa berbagi ilmu, yang kaya bisa berbagi harta. Tetapi di balik itu semua kenikmatan itu  hangus karena tidak didasarkan pada iman yang benar  juga tiadak ada niat karena Allah dan semangat untuk mencari Ridha Allah. Hal ini dipandang sangat penting olehNya. Dan tentu saja Allah Maha melihat keadaan tiap individu baik lahir maupun batinnya. Karena memang Dia Maha Melihat lagi Maha mengetahui hati yang bersih dan hati berdebu (kesalahan kecil tetapi fatal).
Hati berdebu dengan bermacam-macam nama. Riya atau pamer  itu dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan kebaikan di depan orang lain sesungguhnya tidak baik. Dalam hal ibadah bila seseorang melakukan ibadah/ mendekatkan diri kepada Allah tetapi tujuannya bukan mencari keridhaan Allah melainkan tujuannya adalah dunia. Seperti mencari posisi di hati manusia, mencari perhatian atau mencari pujian sesama. 
Selain Riya ada sum’ah dan ujub.  Sum’ah yakni memperdengarkan kebaikannya karena manusia memujinya. Atau bangga dengan kemampuannya karena mendapatkan nama di depan orang  lain. Sedangkan Ujub atau kagum dan bangga diri/ sombong terhadap kemampuan diri atas yang ada bisa kekuatan, kemampuan atau kekayaan yang dimiliki. Dia tertipu oleh kelebihannya yang sesungguhnya itu hanya sebatas titipan dan ada sementara di dunia saja. Sedang kehidupan berikutnya lenyap tanpa ada manfaat. (Semoga kita dijauhkan dari yang demikian, aamiin).
Sahabat guru, kita memiliki kemampuan sebagai guru dengan ilmu yang terus bertambah. Kita menjadi guru yang mampu berkarya dan kita menjadi guru yang bersahaja, memiliki kecukupan materi sehingga menikmati hidup yang sejahtera. Kita juga berharap kehidupan rumah tangga dalam kedamaian dan kesejukan laksana indahnya taman. Anda juga  memiliki segudang karya, setumpuk prestasi dan sebanyak  mungkin keberhasilan yang terukir yang mengharumkan nama diri, nama sekolah, nama daerah bahkan nama bangsa dan Negara.
Itu semua bukan tujuan tetapi kenikmatan yang wajib disyukuri.  Sehingga Sang Pencipta menambah nikmat sesuai janjiNya. Tujuan utama segala kegiatan yang  dilakukan yang benar adalah mencari Ridha Allah. Kita Rindu kepadaNya untuk bisa bertemu pada hari yang indah kelak. Sehingga kita bersungguh-sungguh meluruskan niat dengan hati yang bersih. Kita bekerja dengan mengeluarkan segala kemampuan  itu karena Allah, untuk Allah dan sesuai dengan peraturan Allah.
Sahabat guru, waktu dan tenaga kita yang setiap hari andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa ini semoga tidak sia-sia. Sekalipun upah yang diterima terhitung kecil di mata manusia tetapi membawa keberkahan bagi rizki kita dan keluarga. Pasangan hidup dan anak-anak kita tercatat sebagai orang yang shalih/ shalihah di mataNya. Alangkah indahnya bila kita mampu menumbuhkan rasa percaya diri untuk menjadi guru yang sebenarnya. Guru yang hebat mampu berkarakter, berilmu, berprestasi dan terus belajar.
Jangan ada keluh kesah lantaran ada kekurangan. Banyak jalan untuk mencari solusi. Semoga bola dunia itu tidak kita taruh di atas kepala. Karena selain menjadi beban juga menutup cahaya menerobos dalam jernihnya pikir serta hati. Karena semua telah ada garis kehidupan yang pasti dan juga tempat kembali. 
Kita berharap juga memiliki umur yang berkah, semakin bertambah semakin merunduk pada Sang Pemilik. Usia yang diberikan untuk mempersiapakan bekal kehidupan akhirat yang bahagia. Sehingga tidak ada kebohongan dan kepalsuan atas kenikmatan yang kita peroleh. Kita berharap dengan tulus ihlas andil mencerdaskan kehidupan bangsa ini menjadi amal shalih.  Segala manfaat dan kebaikan darinya menjadikan hidup lebih bahagia. Proses dan hasil yang ada dapat  bernilai  ibadah yang mengalir pahalanya kelak. Semuanya  mampu melonggarkan alam penantian dan meringankan beban siksa karena kelalaian, karena kesalahan dan karena dosa-dosa yang melekat pada diri kita. Tetap semangat untuk meraih kebahagiaan hari ini dan esok.
 Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S.Al Hasyr 59: 18).







1 comment:

BERCERITA MENYENTUH BANYAK ASPEK

BERCERITA MENYENTUH BANYAK ASPEK Setiap orang tua yang sehat mendambakan putra putrinya memiliki masa depan yang cerah. Be...