ADAKAH KESUKSESAN SEMU
tetapi tidak selamanya
yang kasat mata itu sukses.”
(Sitikhusnul)
Ini adalah kisah nyata. Percaya atau tidak itu
adalah hak Anda. Tetapi saya sangat yakin bahwa kisah ini benar dan masih relevan bagi kehidupan kita. Kecerdasan
Anda bisa mendata, menganalisa kemudian mengambil simpulan dengan baik.
Selanjutnya semoga dapat mengambil pelajaran dari pengalaman para tokoh
yang yang anonim di bawah ini.
Mereka sangat gigih dan memiliki segudang
prestasi yang luar biasa di mata manusia. Pujian dan kehormatannya selama hidup
tidak ada cela. Sungguh mereka hidup penuh kenikmatan. Mereka meraih kesuksesan yang luar
biasa dengan kenikmatas tersebut karena menggunakan kenikmatannya dinilai
sukses di dunia. Mereka benar-benar
menjadi buah bibir perjalanan hidupnya dengan kelebihan yang dimiliki. Namun
butiran apa yang menghalangi nilai kesuksesan tiga tokoh tersebut tidak dilihat
oleh Sang Pencipta?
Dari abu hurairah Ra, ia berkata , aku mendengar
Rasulullah bersabda. “ Sesungguhnya manusia yang pertama diadili pada hari
kiamat adalah orang-orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia datangkan dan
diperlihatkan kenikmatan yang diberikan di dunia, ia pun mengenalinya.
Allah bertanya kepadanya,”Amal apa yang kau lakukan dengan nikmat
itu?”
Ia menjawab,” Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati
syahid.”
Allah berfirman, “Engkau dusta!. Engkau berperang agar dikatakan
sebagai orang yang pemberani. Memang demikian keadaan seperti yang dikatakan. Kemudian
diperntahkan kepada malaikat untuk menyeret mukany tertelungkup, lalu
dilemparkan ke neraka.
Berikutnya oang yang diadili adalah orang yang menuntut ilmu yang
mengajarkan serta mengajarkan Al-Quran. Ia didatangkan dan diperlihatkan
kenikmatan di dunia. Maka ia mengakuinya.
Kemudian Allah bertanya,”Amal apa yang kau lakukan dengan kenikmatan
itu?”
Ia menjawab,”Aku menuntut imu serta mengajarkannya dan aku membaca
Al-Quran karena Engkau.
Allah berkata, “Kamu dusta! Kamu menuntut ilmu agar dikatakan sebagai
orang alim, kamu membaca Al-Quran agar
kau mendapatkan paggilan sebagai qori’ (ahli membaca). Memang begitulah yang
dikatakan . Kemudian diperintahkan malaikat untuk menyeret atas mukanya dan
dilempakan ke neraka.
Berikutnya a orang yang diadili adalah orang yang diberikan kelapangan
rizki dan berbagai macam harta benda. Dia didatangkan dan ditampakan kenikmatan
di dunia. Dia pun mengenalinya.
Kemudian Allah bertanya, “ Dengan amal apa kamu lakukan kenikmatan
itu?”
Di menjawab,” Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada
jalan yang Engkau cintai, melainkan aku melakukan karena Engkau.”
Allah berfirman,” Engkau dusta! Kamu berbuat yang demikian agar kamu
dikatakan sebagai orang yang dermawan dan begitulah yang dikatakan kepadamu,
kemudian diperintahkan malaikat (agar) menyerretnya atas mukanya dan
melemparkannya ke neraka.” ( Muslim, Kitabul Imarah , bab Man Qaatala lir Riya’
was Sum’ah Istahaqqannar (VI/47) atau juga dalam beberapa kitab.
Sahabat guru, saat Muawiyah mendengar tentang kisah
ini. Dia berkata, “Hukuman ini telah belaku atas mereka, bagaimana dengan
orang-orang sesudahnya? Kemudian dia menangis dan pinsan. Setelah siuman dia
berkata: “Benar yang dikatakan Allah dan RasulNya.
Allah berfirman: ‘Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan
perhiasannya, niscya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di duna dengan sempurna dan mereka di
dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat
kecuali neraka. Lenyaplah di akhirat itu kecuali neraka yang mereka usahakan di
dunia dan sia-sia apa yang mereka kerjakan (hud: 15-16) (H.R. Tirmidzi no 23832
dan Ibnu Khuzaimah no. 2482).
Ketiga tokoh tersebut kehidupan yang gemilang
sukses setelah berjuang dengan segala kekuatan, segala ilmu dan segala harta
benda yang dikorbankan dapat dinikmati oleh diri dan keturunanya di dunia.
Sedang di akhirat sebagai kehidupan yang lebih panjang bahkan abadi tidak bisa
dirasakannya. Nah mengapa Allah memberi mereka kesuksesan dengan kasat mata?
Tentu saja segala apa yang Dia kehendaki adalah tanda-tanda kekuasanNya agar
manusia cerdas menggunakan pikirannya dan ketajaman mata hatinya.
Sahabat guru, dalam kehidupan ini memang ada tiga
kelompok status manusia yang memiliki kelebihan. Pertama, manusia yang Dia anugerahkan
nikmat sehat, kuat, gagah dan pemberani/memiliki
jabatan atau power of people. Kelompok kedua adalah manusia yang dimuliakan
Sang Pencipta dengan dianugerahkan ilmu, kecerdasan, kemampuan, prestasi dan
setumpuk kejuaraan/ kemenangan sehingga menjadi motivator dan inspirator yang
luar biasa kepada sesama. Yang ketiga adalah manusia yang diberikan kelapangan rizki dan dan kekayaan yang melimpah. Dengan kelebihan yang luar biasa mereka
gunakan nikmat itu untuk kemanfaatan.
Masing-masing kelebihan dapat dinikmati oleh diri
dan orang lain. Yang gagah bisa membela dengan kekuatannya, yang pandai bisa berbagi ilmu, yang kaya bisa berbagi
harta. Tetapi di balik itu semua kenikmatan itu hangus karena tidak didasarkan pada iman yang
benar juga tiadak ada niat karena Allah
dan semangat untuk mencari Ridha Allah. Hal ini dipandang sangat penting
olehNya. Dan tentu saja Allah Maha melihat keadaan tiap individu baik lahir
maupun batinnya. Karena memang Dia Maha Melihat lagi Maha mengetahui hati yang
bersih dan hati berdebu (kesalahan kecil tetapi fatal).
Hati berdebu dengan bermacam-macam nama. Riya atau
pamer itu dalam kehidupan sehari-hari
menunjukkan kebaikan di depan orang lain sesungguhnya tidak baik. Dalam hal
ibadah bila seseorang melakukan ibadah/ mendekatkan diri kepada Allah tetapi
tujuannya bukan mencari keridhaan Allah melainkan tujuannya adalah dunia. Seperti
mencari posisi di hati manusia, mencari perhatian atau mencari pujian
sesama.
Selain Riya ada sum’ah dan ujub. Sum’ah yakni memperdengarkan kebaikannya karena
manusia memujinya. Atau bangga dengan kemampuannya karena mendapatkan nama di
depan orang lain. Sedangkan Ujub atau
kagum dan bangga diri/ sombong terhadap kemampuan diri atas yang ada bisa
kekuatan, kemampuan atau kekayaan yang dimiliki. Dia tertipu oleh kelebihannya
yang sesungguhnya itu hanya sebatas titipan dan ada sementara di dunia saja.
Sedang kehidupan berikutnya lenyap tanpa ada manfaat. (Semoga kita dijauhkan
dari yang demikian, aamiin).
Sahabat guru, kita memiliki kemampuan sebagai guru
dengan ilmu yang terus bertambah. Kita menjadi guru yang mampu berkarya dan
kita menjadi guru yang bersahaja, memiliki kecukupan materi sehingga menikmati
hidup yang sejahtera. Kita juga berharap kehidupan rumah tangga dalam kedamaian
dan kesejukan laksana indahnya taman. Anda juga
memiliki segudang karya, setumpuk prestasi dan sebanyak mungkin keberhasilan yang terukir yang
mengharumkan nama diri, nama sekolah, nama daerah bahkan nama bangsa dan
Negara.
Itu semua bukan tujuan tetapi kenikmatan yang wajib
disyukuri. Sehingga Sang Pencipta
menambah nikmat sesuai janjiNya. Tujuan utama segala kegiatan yang dilakukan yang benar adalah mencari Ridha
Allah. Kita Rindu kepadaNya untuk bisa bertemu pada hari yang indah kelak.
Sehingga kita bersungguh-sungguh meluruskan niat dengan hati yang bersih. Kita
bekerja dengan mengeluarkan segala kemampuan
itu karena Allah, untuk Allah dan sesuai dengan peraturan Allah.
Sahabat guru, waktu dan tenaga kita yang setiap
hari andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa ini semoga tidak sia-sia.
Sekalipun upah yang diterima terhitung kecil di mata manusia tetapi membawa
keberkahan bagi rizki kita dan keluarga. Pasangan hidup dan anak-anak kita
tercatat sebagai orang yang shalih/ shalihah di mataNya. Alangkah indahnya bila
kita mampu menumbuhkan rasa percaya diri untuk menjadi guru yang sebenarnya.
Guru yang hebat mampu berkarakter, berilmu, berprestasi dan terus belajar.
Jangan ada keluh kesah lantaran ada kekurangan.
Banyak jalan untuk mencari solusi. Semoga bola dunia itu tidak kita taruh di atas kepala. Karena selain menjadi beban juga menutup cahaya menerobos dalam jernihnya pikir serta hati. Karena semua telah ada garis kehidupan yang pasti dan juga tempat kembali.
Kita berharap juga memiliki umur yang berkah, semakin
bertambah semakin merunduk pada Sang Pemilik. Usia yang diberikan untuk
mempersiapakan bekal kehidupan akhirat yang bahagia. Sehingga tidak ada
kebohongan dan kepalsuan atas kenikmatan yang kita peroleh. Kita berharap
dengan tulus ihlas andil mencerdaskan kehidupan bangsa ini menjadi amal
shalih. Segala manfaat dan kebaikan
darinya menjadikan hidup lebih bahagia. Proses dan hasil yang ada dapat bernilai ibadah yang mengalir pahalanya kelak.
Semuanya mampu melonggarkan alam
penantian dan meringankan beban siksa karena kelalaian, karena kesalahan dan
karena dosa-dosa yang melekat pada diri kita. Tetap semangat untuk meraih
kebahagiaan hari ini dan esok.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah,
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S.Al
Hasyr 59: 18).

semoga kita sukses dunia dan akhirat. aamiin
ReplyDelete