Blog Archive

Monday, April 9, 2018

KELUARGA DAN KARAKTER MULIA



KELUARGA DAN PENDIDIKAN KARAKTER

Sering kita mendengar atau berkata tentang ‘keluarga’. Keluarga besar, keluarga sejahtera, keluarga bahagia, keluarga idaman, pendidikan keluarga, taman keluarga ,  atau keluarga berantakan. Frase itu memiliki pengertian sesuai semesta pembicaraannya. Sebelum kita berbicara pada tema ‘pendidikan keluarga’ kali ini, ada baiknya kita ketahui arti kata ‘keluarga’ terlebih dahulu. Keluarga menurut KBBI adalah(1) ibu dan bapak beserta anak-anak;  seiisi rumah (2) adalah orang seiisi rumah yang menjadi tanggungan ;batin.
Sedang dalam istilah, keluarga memiliki beberapa pengertian. Misalnya menurut M. Shalih Karim (2012), keluarga adalah unit terkecil dari susunan kelompok masyarakat berupa pasangan suami istri, mempunyai anak atau tidak mempunyai anak.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah masyarakat terkecil yang memiliki otonomi dan keberadannya tidak bisa dipisahkan dengan masyarakat yang lebih luas. Keluarga

 merupakan inti dari keberadaan masyarakat. Keluarga memiliki peran sebagai sebagai tempat berbagi suka, duka, kasih sayang, perhatian, kenyamanan, rasa takut atau hawatir, dan sebagainya.
Keberadaan keluarga ini tentu saja melalui sebuah perencanaan dari orang-orang sebelumnya. Dan tidak terepas dengan perencanaan Sang Maha Pencipta. Adam as bertemu dengan Ibu Hawa dan memiiki beberapa anak yang kembar, sehingga anak-anak melangsungkan kehidupan dengan berkeluarga. Hingga manusia naman now bahkan jaman akhir nanti akan mengalami beberapa persamaan.
Mereka memiliki nafsu biologis yang alami. Mereka saling membutuhkan, dan mereka memiliki rasa kecenderungan terhadap seseorang. Sebuah contoh Ali sudah berusia 25 tahun, hatinya gelisah sepanjang waktu. Dia tidak tahu apa penyebab utamanya. Dia sampaikan kegelisahannya ini kepada orang tuanya. Maka orang tua dapat membantunya. Orang tua ikut memikirkan masalah putranya. Berbagai cara mereka mencari informasi, akhirnya Ali ditawarkan dengan sebuah solusi untuk menikah. Ali mengungkapkan kecenderungannya untuk menikahi wanita yang dia kenal. Dikuatkan dengan istiharaah (doa meminta pilihan yang tepat), Ali dapat menikah dan bahagia.
Berbeda dengan Cecep yang sangat cenderung mencintai Feny. Mereka saling mengenal dan sangat akrab. Keluarganya saling mendukung. Lima tahun kemudian mereka menjadi orang ‘sukses’. Perekonomian sangat bagus, mereka cerdas dan berprestasi dalam dunia karier. Mereka menikah, pesta besar dan luar biasa ramainya.  Tetapi tidak sampai satu tahun  umah tangga mereka berantakan. Mereka bercerai dan  
Mengapa dua hal di atas dapat terjadi? Rumah tangga adalah tempat unik untuk saling menentramkan anggotanya. Bukan sekedar untuk melepaskan angan angan belaka. Anggota keluarga memiliki hak dan kewajiban yang saling menentramkan. Mereka memiliki kemauan yang sungguh-sungguh untuk mendahulukan  kewajiban dari pada hak. Sehingga mereka mampu menghadapi tantangan dan hambatan yang kadang tidak disangkanya.
Keluarga yang diidamkan biasanya sering disebut dengan ‘keluarga sakinah’. Sakinah artinya rasa tentram dan damai, terpenuhi unsur hajat hidup spiritual dan material secara layak dan seimbang. Keluarga  sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material yang layakdan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarganya dan lingkunganna secara selaras, serasi, serta mampu mengamalkan, menghayari dan memperdalam nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia.(M. Salih Karim:2012).
Dalam keluarga sakinah, masing-masing anggota dapat meyakinkan dirinya bahwa sesuatu yang telah terjadi adalah ada yang mengaturnya. Mereka saling menerima dan siap menghadap ketentuanNya. Mereka gigih menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya arena yakin semuanya akan menaatkan balasan di masa akhirnya kelak.
Dalam keluarga sakinah bukan berarti tidak ada tangtangan. Tetapi masalah yang timbul dapat diselesaikan. Mereka mengakui hokum kausatif atau sebab akibat. Sehingga intropeksi diri/ mawas diri untuk menemukan kesalahan diri  menjadi sifat yang melekat pada kepribadiannya. Bukan sebatas menyesali kesalahannya, tetapi mereka berupaya memecahkan masalahnya dengan menciptakan iklim komunikatif yang kondusif.
Mereka komunikatif. Mereka mudah bermusyawarah dan komitmen dalam menjalankan keputusan bersama. Mereka bisa saling berbagi pendapat dan menghargainya. Bagi seorang istri yang dikaruniai berpikir lebih  bagus tidak tampak mendekte suaminya, tetapi mampu mengekspresikan kelebihan pikirannya dengan baik dan menghornati suamiya. Bagi suami yang tegas dapat santun mengemukakan ketegasannya untuk kebaikan bersama.
 Mereka saling menghargai segala kelebihan dan menerima kekurangannya. Sehingga bisa menjalankan kesepakatan yang dibuat bersama dan melangkah untuk menggapai cita yang diharapkan. Kelebihan anggota keluarga dapat dijadikan peluang untuk menggapai tujuan bersama. Sedang kekurangannya dapat dijadikan peluang untuk perbaikan bersama.
Mereka saling percaya. Satu sama lain memiliki rasa amanah terhadap diri dan yang lainnya. Masing-masing diri dapat menunjukkan kejujurannya dalam perkataan maupun perbuatan. Sehingga rasa saling curiga dan tidak percaya dapat tersingkirkan secara alami. Mereka menjaga diri dari terjerumusnya perkataan atau perbuatan yang merugikan. Mereka tidak memupuk bohong dan atau perselingkuhan dalam berbagai urusan.
Keluarga sakinah itu anggotanya terdidik. Terdidik bermakna selalu berproses dalam upaya sengaja mendewasakan semua anggota keluarga. Proses ini telah direncanakan  dengan baik. Dari mereka sebelum menikah teah memiliki konsep idial tentang pasangannya. Tentang mensikapi kekurangan dan kelebihan pasangannya. Tentang unt menerima kehadiran buah hatinya. Tentang cara membangun dan mempertahankan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.
Keluarga yang terdidik, masing masing orang dewasa yang ada di dalamnya mendidik diri terlebih dahulu sebelum mendidik orang lain. Keberhasilan mendidik adalah adanya perubahan diri dan juga perubahan yang dididik. Sehingga subyek dan obyek pendidikan sama-sama mengalami perubahan ke arah positif. Mereka komitmen dan konsisten menerapka aturan pendidikan pada keluarganya.
Orang dewasa pertama adalah kepala keluarga yaitu suami. Dia berperan sebagai top maneger. ‘Lelaki adalah peminpin bagi perempuan’. Orang dewasa kedua adalah istri. Dia memliki tugas pokok sebagai pengurus harian di bawah suami. Dia pendamping suami dalam suka maupun duka. Dia sayap kanan, agar suami dapat terbang meraih kebahagiaan. Dia tempat melepas kepenatan dan kegalauan. Dan seorang istri harus sanggup 24 jam berada di bawah kaki suami. Dia tunduk patuh dan taat terhadapnya setelah tunduk, patuh dan taat Sang Maha Pencipta dan RasulNya.
Kedua orang dewasa ini telah siap mendidik sepenuh hati kepada putra putrinya. Mereka mendidiknya sejak dalam proses pembuahan. Saat kelahirannya di dunia fana. Saat balita dan seterusnya  hingga dewasa atau sampai mereka membentuk keluarga baru.

Bagaimana mereka mendidik?

Mendidik merupakan suatu upaya mengantarkan anak didik ke arah  kedewasaan baik secara rohani maupun jasmani. Mendidik  dapat bermakna  upaya  pembinaan  pribadi, sikap mental dan ahlaq anak didik. Mendidik merupakan tranfer of kwowledge sekaligus transfer of values. Mendidik juga bermakna  mengajak (memotivasi, mendukung, membantu, menginspirasi ) orang lain untuk melakukan tidakan positif yang bermanfaat bagi diri dan orang lain serta lingkungan. Mendidik juga merupakan proses  membuat proses tunas berkembang  baik menjadi besar, sehingga awal pendidikan merupakan proses perjalanan hidup di masa yang akan datang.
Pendidikan keluarga diawali dari dini. Yaitu saat anak dalam proses pembuahan. Agama apapun mengajarkan tata cara perkawinan yang syah. Perkawianan ini merupakan batas haramnya pergaulan calon suami dan calon istri menjadi halal. Mereka menjadi pasangan  suami –istri yang sah. Perkawinan eupaka ikatan sakral yang memerlukan bukti. Ada saksi dan juga sangat perlu ada hitam di atas putih.
            Perkawinan menghalalkan terobosan untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu mereka sejak sebelum mempertemukan calon janin terlebih dahulu berharap kepada Sang Pencipta. Mereka membaca doa sesuai keyakinannya masing-masing. Khususnya dalam ajaran Islam ada doa yang dicontohkan oleh Nabi besar Muhammad SAW.


            Saat sang istri hamil, suami terus mendidik dan menstabilkan perubahan emosinya. Wanita mengalami banyak perubahan, terutama hormone kehamilan.(Hormon HCG= Human Chorionic Gonadotrophin, HPL= Humaan Placental Lactogen,Relaxin, Estrogen, Progesteron dan MSH= Melanocyte Stimulating Hormone). Dia juga mengalami  dan perubahan psikologis serta perubahan bentuk fisik. Hal ini memerlukan upaya untuk selalu bahagia baik dari diri sendiri maupun dari orang terdekatnya.
Sejak saat itulah suami mulai andil mendidik anak melalui kejiwaan istri. Sedang  sang istri adalah menjadi guru bagi buah hatinya. Hatinya, fisiknya, pikirannya mulai terfokus pada janin.  Keadaan jiwa raganya mulai dirasakan oleh janinnya. Lelah, lapar maupun kesal janin ikut merasakan. Demikian juga bahagia, cukup nutrisi dan cukup istirahat ikut pula dirasakan oleh janinnya. Makanan janin mengambil dari badan istri. Kemanpun istri bergerak janin selalu menempel pada perutnya. Ucapan yang dilahirkan maupun disembunyikan sang istri bayilah yang menjadi pendengar setia selain Sang Maha Pencipta. Sang janin merekam  kuat dalam memori serta bentuk pola perkembangannya dan pertumbuhannya.
Dalam proses kelahiran, ibu bejuang dengan jiwa raga. Suami sangat layak memberikan suport dan juga memaafkan semua kesalahan istri agar proses melahirkan lebih mudah. Tetapi jika suami tidak ada di tempat karena urusan yang dapat dipertanggung jawabkan maka suami bisa meminta maaf dan meminta bantuan kepada saudara untuk memberikan motivasi kepada istri dan keluarganya. Agar tidak ada kesedihan dan juga kesalah pahaman tentang dirinya.

Saat bayi lahir mereka memperdengarkan kalimat terbaik seperti suara adzan dan iqomah pada telinga kanan dan kirinya. Mereka melakukan amalan sebagaimana Rasul mencontohkannya. Ada pemberian nama yang baik, ada aqikah, ada memotong rambut dan ada sodakoh.
            Suami istri, kini telah dipanggil sebagai Bapak dan Ibu. Mereka melindungi dengan penih kasih sayang. Rasa sentuhan udara yang berbeda dan pendengaran serta penglihatan mulai dia alami. Foler rekamnnya aktif baik dalam keadaan terjaga maupun tidur. Asupan ASI tetap mengalir dari ibu. Maka bayi mulai tumbuh dan berkembang.
            Bayi menjalani masa pendidikan bersama keluarga. Siapapun orang di dekatnya akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Tanggung jawab utama ada pada ibu yang berinteraksi langsung dan lebih dominan terhadapnya. Berat memang bagi seorang ibu.

Proses Pendidikan itu dari mana?

Ibu adalah sekolah utama. Pepatah  bahasa Arab mengatakan al ummu madrosatul uula iza a’dataha a’data sya’ban thoyyibal a’roq. Artinya Ibu adalah madrasah awal bagi anak , bila engkau mempersiapkannya  maka engkau telah  mempersiapkan generasi terbaik. Kalimat tersebut tersirat makna dari seorang ibu yang berkarakter  mulia akan melahirkan anak yang berkarakter  mulia, bila diberikan padanya  proses pendidikan yang mulia juga.
Para tokoh pendidikan dan psikolog menemukan masa emas anak adalah pada usia ….Usia ini anak-anak masih dalam asuhan orang tua bukan ? Mereka membutuhkan perhatian yang cukup dalam segala aspek. Stimulan untuk merangsang pertumbuhan aspek mental, sosial, moral, fisik, intelektual dan lainya harus cukup diterimanya. Agar pertumbuhan dan perkembangan tumbuh positif dan kuat.
            Mereka memasuki lingkungan pendidikan keluarga. Bagaimana mereka berbicara, bagaimana mereka makan, bagimana mereka menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.  Sikap mereka mencerminkan sikap orang tua. “Air bercucuran atap jatuh ke pelimbahan juga’. Sehingga orang tua bisa bercermin diri terhadap anak. Bahasa dan sikap anak ketika mereka berada pada lingkungan lain adalah hasil proses pendidikan dalama keluarga.
            Orang tua tentuya tidak berpikir untuk melepaskan tanggung jawab pendidikan kepada pihak lain. Misalnya di rumah ada asisten rumah tangga, mereka cukup mengandalkannya untuk mengasuh anak sepenuhnya. Di playgrup atau PAUD atau TK mereka serahkan kepada guru. Dan masa SD dan SMP merekalepas begitu saja. Karena asisten rumah tangga dan guru di sekolah bukanlah penangung jawab utama terhadap pendewasan mereka. Orang tua haruslah menyempatkan diri menemani anak-anak dengan keteraturan dan perhatian sepenuh hati.
            Menjadi bahan renungan bersama, waktu dan bentuk perhatian kepada anak. Asisten rumah tangga bisa jadi memperhatikan anak asuhnya bila orang tuanya ada di sampingnya. Sedangkan saat orang tua jauh darinya, mereka kadang lebih asyik dengan pekerjan lainnya. Sehingga belum tentu perhatian yang diberikan itu sesuai dengan yang kita harapkan. Contoh kasus cukup mengerikan di sekitar kita. Babby sister menyiksa bayi majikannya http://m.tribunnews.com/2008/01/29. Dan lain sebaginya cukup banyak kasus yang terjadi.
            Jaman now, yang dominan dengan kemajuan alat komunikasi yang canggih juga tidak berarti semua sibuk dengan gadgednya masing-masing.  Janganlah terjadi  suasana aneh di rumah kita. Mata tak berkedip, telinga tak mendengar bakan hati tidak terespon dengan panggilan orang tua bagi anak. Atau orang tua lebih memperhatikan handpone dan mengejar uang tanpa menghiraukan tangis dan ungkapan anak.
            Orang tua janganlah meniru kasus masa lalu yang menjadi catatan sejarah pada masa Umar Ibnul hottob. Orang sudah kebingungan menghadapi tingkah laku anaknya. Namun ternyata kesalahan utama adalah pada diri orang tua tersebut.
            Dalam satu riwayat dikisahkan ada seorang Bapak  dan anaknya  yang menemui Kholifah Umar Ibnul Khottob kemudian mengadukan tentang anaknya yang durhaka . Kemudian  Kholifah Umar menegur si anak.
Umar Ra:  “tidakkah kamu tau bahwa durhaka kepada orang tua merupakan hal yang mengundang murka ALLah?  bisa membuat kerugian yang besar ?”.
 Anak : “Wahai Amirul Mukminin, jangan tergesa gesa mengadiliku, jika seorang ayah mempunyai hak terhadap anaknya, bukankah anak juga punya hak terhadap ayahnya ?”.
Umar Ra : “ya benar “
Anak     : “apa hak anak terhadap ayah , wahai amirul mukminin ?”
Umar ra : “ada tiga, yaitu  p ertma hendaklah  ia memilih  calon ibu yang baik bagi putranya, kedua, henhaklah ia menamainya dengan nama yang baik, dan yang ketiga hendaklah ia mengajarkan Alquran.”
Anak : “Wahai amitrul mukminin , ayahku tidak melakukan satupun dari tiga hal tersebut.
            Ia tidak memilih calon ibu yang baik bagiku, ibuku adalah seorang hamba sahaya yang buruk yang dibeli dipasar seharga dua dirham (semodel pelacur). Setelah lahirpun ayah menamaiku -Ju’al.(sejenis kumbang yang yang berkubang pada kotoran ) dan dia tidak pernah mengajariku al Quran walau satu ayatpun.”
Umar Ibnul Khottob ra menghampiri ayahnya dan berkata “Engkaulah yang mendurhaikanya sewaktu ia kecil, pantaslah kalau anak itu  mendurhaikaimu sekarang.”

            Demikian juga di sekolah. Jika komunikasi orang tua siswa dengan pihak sekolah berjalan baik, maka anak akan mendapatkan perhatian dari kedua belah pihak dengan baik. Jika ada masalah pada anak maka akan lebih cepat dapat terselesaikan oleh keduanya. Tetapi jika orang tua hanya menyerahkan kepada sekolah, sangat dimungkinkan anak akan mencari pehatian ke tempat lain. Mereka dapat membentuk kelompok kelompok tertentu. Kelompok ini adakalanya positif dan ada kalanya negatif. Bahayanya jika kelompok yang diikutinya adalah negatif, maka suatu saat orang tua akan merasakan dampaknya. ‘Anak polah bopo kepradah’.
           
           


 



No comments:

Post a Comment

BERCERITA MENYENTUH BANYAK ASPEK

BERCERITA MENYENTUH BANYAK ASPEK Setiap orang tua yang sehat mendambakan putra putrinya memiliki masa depan yang cerah. Be...