KELUARGA
DAN PENDIDIKAN KARAKTER
Sering kita mendengar
atau berkata tentang ‘keluarga’. Keluarga besar, keluarga sejahtera, keluarga
bahagia, keluarga idaman, pendidikan keluarga, taman keluarga , atau keluarga berantakan. Frase itu memiliki
pengertian sesuai semesta pembicaraannya. Sebelum kita berbicara pada tema
‘pendidikan keluarga’ kali ini, ada baiknya kita ketahui arti kata ‘keluarga’
terlebih dahulu. Keluarga menurut KBBI adalah(1) ibu dan bapak beserta
anak-anak; seiisi rumah (2) adalah orang
seiisi rumah yang menjadi tanggungan ;batin.
Sedang dalam istilah,
keluarga memiliki beberapa pengertian. Misalnya menurut M. Shalih Karim (2012),
keluarga adalah unit terkecil dari susunan kelompok masyarakat berupa pasangan
suami istri, mempunyai anak atau tidak mempunyai anak.
Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa keluarga adalah masyarakat terkecil yang memiliki otonomi dan
keberadannya tidak bisa dipisahkan dengan masyarakat yang lebih luas. Keluarga
merupakan inti dari keberadaan masyarakat. Keluarga
memiliki peran sebagai sebagai tempat berbagi suka, duka, kasih sayang,
perhatian, kenyamanan, rasa takut atau hawatir, dan sebagainya.
Keberadaan keluarga ini
tentu saja melalui sebuah perencanaan dari orang-orang sebelumnya. Dan tidak
terepas dengan perencanaan Sang Maha Pencipta. Adam as bertemu dengan Ibu Hawa
dan memiiki beberapa anak yang kembar, sehingga anak-anak melangsungkan
kehidupan dengan berkeluarga. Hingga manusia naman now bahkan jaman akhir nanti
akan mengalami beberapa persamaan.
Mereka memiliki nafsu biologis
yang alami. Mereka saling membutuhkan, dan mereka memiliki rasa kecenderungan terhadap
seseorang. Sebuah contoh Ali sudah berusia 25 tahun, hatinya gelisah sepanjang
waktu. Dia tidak tahu apa penyebab utamanya. Dia sampaikan kegelisahannya ini
kepada orang tuanya. Maka orang tua dapat membantunya. Orang tua ikut memikirkan
masalah putranya. Berbagai cara mereka mencari informasi, akhirnya Ali
ditawarkan dengan sebuah solusi untuk menikah. Ali mengungkapkan
kecenderungannya untuk menikahi wanita yang dia kenal. Dikuatkan dengan
istiharaah (doa meminta pilihan yang tepat), Ali dapat menikah dan bahagia.
Berbeda dengan Cecep
yang sangat cenderung mencintai Feny. Mereka saling mengenal dan sangat akrab.
Keluarganya saling mendukung. Lima tahun kemudian mereka menjadi orang
‘sukses’. Perekonomian sangat bagus, mereka cerdas dan berprestasi dalam dunia
karier. Mereka menikah, pesta besar dan luar biasa ramainya. Tetapi tidak sampai satu tahun umah tangga mereka berantakan. Mereka bercerai
dan
Mengapa dua hal di atas
dapat terjadi? Rumah tangga adalah tempat unik untuk saling menentramkan
anggotanya. Bukan sekedar untuk melepaskan angan angan belaka. Anggota keluarga
memiliki hak dan kewajiban yang saling menentramkan. Mereka memiliki kemauan
yang sungguh-sungguh untuk mendahulukan
kewajiban dari pada hak. Sehingga mereka mampu menghadapi tantangan dan
hambatan yang kadang tidak disangkanya.
Keluarga yang diidamkan
biasanya sering disebut dengan ‘keluarga sakinah’. Sakinah artinya rasa tentram
dan damai, terpenuhi unsur hajat hidup spiritual dan material secara layak dan
seimbang. Keluarga sakinah adalah keluarga
yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan
material yang layakdan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara anggota
keluarganya dan lingkunganna secara selaras, serasi, serta mampu mengamalkan,
menghayari dan memperdalam nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia.(M.
Salih Karim:2012).
Dalam keluarga sakinah,
masing-masing anggota dapat meyakinkan dirinya bahwa sesuatu yang telah terjadi
adalah ada yang mengaturnya. Mereka saling menerima dan siap menghadap
ketentuanNya. Mereka gigih menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya
arena yakin semuanya akan menaatkan balasan di masa akhirnya kelak.
Dalam keluarga sakinah
bukan berarti tidak ada tangtangan. Tetapi masalah yang timbul dapat
diselesaikan. Mereka mengakui hokum kausatif atau sebab akibat. Sehingga
intropeksi diri/ mawas diri untuk menemukan kesalahan diri menjadi sifat yang melekat pada
kepribadiannya. Bukan sebatas menyesali kesalahannya, tetapi mereka berupaya
memecahkan masalahnya dengan menciptakan iklim komunikatif yang kondusif.
Mereka komunikatif.
Mereka mudah bermusyawarah dan komitmen dalam menjalankan keputusan bersama.
Mereka bisa saling berbagi pendapat dan menghargainya. Bagi seorang istri yang
dikaruniai berpikir lebih bagus tidak
tampak mendekte suaminya, tetapi mampu mengekspresikan kelebihan pikirannya
dengan baik dan menghornati suamiya. Bagi suami yang tegas dapat santun
mengemukakan ketegasannya untuk kebaikan bersama.
Mereka saling menghargai segala kelebihan dan
menerima kekurangannya. Sehingga bisa menjalankan kesepakatan yang dibuat
bersama dan melangkah untuk menggapai cita yang diharapkan. Kelebihan anggota
keluarga dapat dijadikan peluang untuk menggapai tujuan bersama. Sedang
kekurangannya dapat dijadikan peluang untuk perbaikan bersama.
Mereka saling percaya.
Satu sama lain memiliki rasa amanah terhadap diri dan yang lainnya. Masing-masing
diri dapat menunjukkan kejujurannya dalam perkataan maupun perbuatan. Sehingga
rasa saling curiga dan tidak percaya dapat tersingkirkan secara alami. Mereka
menjaga diri dari terjerumusnya perkataan atau perbuatan yang merugikan. Mereka
tidak memupuk bohong dan atau perselingkuhan dalam berbagai urusan.
Keluarga sakinah itu
anggotanya terdidik. Terdidik bermakna selalu berproses dalam upaya sengaja mendewasakan
semua anggota keluarga. Proses ini telah direncanakan dengan baik. Dari mereka sebelum menikah teah
memiliki konsep idial tentang pasangannya. Tentang mensikapi kekurangan dan kelebihan
pasangannya. Tentang unt menerima kehadiran buah hatinya. Tentang cara
membangun dan mempertahankan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.
Keluarga yang terdidik,
masing masing orang dewasa yang ada di dalamnya mendidik diri terlebih dahulu
sebelum mendidik orang lain. Keberhasilan mendidik adalah adanya perubahan diri
dan juga perubahan yang dididik. Sehingga subyek dan obyek pendidikan sama-sama
mengalami perubahan ke arah positif. Mereka komitmen dan konsisten menerapka
aturan pendidikan pada keluarganya.
Orang dewasa pertama
adalah kepala keluarga yaitu suami. Dia berperan sebagai top maneger. ‘Lelaki
adalah peminpin bagi perempuan’. Orang dewasa kedua adalah istri. Dia memliki
tugas pokok sebagai pengurus harian di bawah suami. Dia pendamping suami dalam
suka maupun duka. Dia sayap kanan, agar suami dapat terbang meraih kebahagiaan.
Dia tempat melepas kepenatan dan kegalauan. Dan seorang istri harus sanggup 24
jam berada di bawah kaki suami. Dia tunduk patuh dan taat terhadapnya setelah
tunduk, patuh dan taat Sang Maha Pencipta dan RasulNya.
Kedua orang dewasa ini
telah siap mendidik sepenuh hati kepada putra putrinya. Mereka mendidiknya
sejak dalam proses pembuahan. Saat kelahirannya di dunia fana. Saat balita dan
seterusnya hingga dewasa atau sampai
mereka membentuk keluarga baru.
Bagaimana
mereka mendidik?
Mendidik
merupakan suatu upaya mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan baik secara rohani maupun jasmani.
Mendidik dapat bermakna upaya
pembinaan pribadi, sikap mental dan
ahlaq anak didik. Mendidik merupakan tranfer of kwowledge sekaligus transfer of
values. Mendidik juga bermakna mengajak (memotivasi,
mendukung, membantu, menginspirasi ) orang lain untuk melakukan tidakan positif
yang bermanfaat bagi diri dan orang lain serta lingkungan. Mendidik juga
merupakan proses membuat proses tunas
berkembang baik menjadi besar, sehingga
awal pendidikan merupakan proses perjalanan hidup di masa yang akan datang.
Pendidikan keluarga
diawali dari dini. Yaitu saat anak dalam proses pembuahan. Agama apapun
mengajarkan tata cara perkawinan yang syah. Perkawianan ini merupakan batas haramnya
pergaulan calon suami dan calon istri menjadi halal. Mereka menjadi
pasangan suami –istri yang sah.
Perkawinan eupaka ikatan sakral yang memerlukan bukti. Ada saksi dan juga
sangat perlu ada hitam di atas putih.
Perkawinan
menghalalkan terobosan untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu mereka sejak
sebelum mempertemukan calon janin terlebih dahulu berharap kepada Sang
Pencipta. Mereka membaca doa sesuai keyakinannya masing-masing. Khususnya dalam
ajaran Islam ada doa yang dicontohkan oleh Nabi besar Muhammad SAW.
Saat
sang istri hamil, suami terus mendidik dan menstabilkan perubahan emosinya.
Wanita mengalami banyak perubahan, terutama hormone kehamilan.(Hormon HCG=
Human Chorionic Gonadotrophin, HPL= Humaan Placental Lactogen,Relaxin,
Estrogen, Progesteron dan MSH= Melanocyte Stimulating Hormone). Dia juga
mengalami dan perubahan psikologis serta
perubahan bentuk fisik. Hal ini memerlukan upaya untuk selalu bahagia baik dari
diri sendiri maupun dari orang terdekatnya.
Sejak saat itulah suami
mulai andil mendidik anak melalui kejiwaan istri. Sedang sang istri adalah menjadi guru bagi buah
hatinya. Hatinya, fisiknya, pikirannya mulai terfokus pada janin. Keadaan jiwa raganya mulai dirasakan oleh
janinnya. Lelah, lapar maupun kesal janin ikut merasakan. Demikian juga
bahagia, cukup nutrisi dan cukup istirahat ikut pula dirasakan oleh janinnya.
Makanan janin mengambil dari badan istri. Kemanpun istri bergerak janin selalu
menempel pada perutnya. Ucapan yang dilahirkan maupun disembunyikan sang istri
bayilah yang menjadi pendengar setia selain Sang Maha Pencipta. Sang janin
merekam kuat dalam memori serta bentuk
pola perkembangannya dan pertumbuhannya.
Dalam proses kelahiran,
ibu bejuang dengan jiwa raga. Suami sangat layak memberikan suport dan juga
memaafkan semua kesalahan istri agar proses melahirkan lebih mudah. Tetapi jika
suami tidak ada di tempat karena urusan yang dapat dipertanggung jawabkan maka
suami bisa meminta maaf dan meminta bantuan kepada saudara untuk memberikan
motivasi kepada istri dan keluarganya. Agar tidak ada kesedihan dan juga
kesalah pahaman tentang dirinya.
Saat bayi lahir mereka
memperdengarkan kalimat terbaik seperti suara adzan dan iqomah pada telinga
kanan dan kirinya. Mereka melakukan amalan sebagaimana Rasul mencontohkannya.
Ada pemberian nama yang baik, ada aqikah, ada memotong rambut dan ada sodakoh.
Suami
istri, kini telah dipanggil sebagai Bapak dan Ibu. Mereka melindungi dengan
penih kasih sayang. Rasa sentuhan udara yang berbeda dan pendengaran serta
penglihatan mulai dia alami. Foler rekamnnya aktif baik dalam keadaan terjaga
maupun tidur. Asupan ASI tetap mengalir dari ibu. Maka bayi mulai tumbuh dan
berkembang.
Bayi
menjalani masa pendidikan bersama keluarga. Siapapun orang di dekatnya akan
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Tanggung jawab utama ada pada ibu
yang berinteraksi langsung dan lebih dominan terhadapnya. Berat memang bagi
seorang ibu.
Proses
Pendidikan itu dari mana?
Ibu
adalah sekolah utama. Pepatah bahasa
Arab mengatakan al ummu madrosatul uula
iza a’dataha a’data sya’ban thoyyibal a’roq. Artinya Ibu adalah madrasah
awal bagi anak , bila engkau mempersiapkannya
maka engkau telah mempersiapkan
generasi terbaik. Kalimat tersebut tersirat makna dari seorang ibu yang
berkarakter mulia akan melahirkan anak
yang berkarakter mulia, bila diberikan
padanya proses pendidikan yang mulia
juga.
Para tokoh pendidikan
dan psikolog menemukan masa emas anak adalah pada usia ….Usia ini anak-anak
masih dalam asuhan orang tua bukan ? Mereka membutuhkan perhatian yang cukup
dalam segala aspek. Stimulan untuk merangsang pertumbuhan aspek mental, sosial,
moral, fisik, intelektual dan lainya harus cukup diterimanya. Agar pertumbuhan
dan perkembangan tumbuh positif dan kuat.
Mereka
memasuki lingkungan pendidikan keluarga. Bagaimana mereka berbicara, bagaimana
mereka makan, bagimana mereka menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi
yang lebih muda. Sikap mereka mencerminkan
sikap orang tua. “Air bercucuran atap jatuh ke pelimbahan juga’. Sehingga orang
tua bisa bercermin diri terhadap anak. Bahasa dan sikap anak ketika mereka
berada pada lingkungan lain adalah hasil proses pendidikan dalama keluarga.
Orang
tua tentuya tidak berpikir untuk melepaskan tanggung jawab pendidikan kepada
pihak lain. Misalnya di rumah ada asisten rumah tangga, mereka cukup
mengandalkannya untuk mengasuh anak sepenuhnya. Di playgrup atau PAUD atau TK
mereka serahkan kepada guru. Dan masa SD dan SMP merekalepas begitu saja.
Karena asisten rumah tangga dan guru di sekolah bukanlah penangung jawab utama
terhadap pendewasan mereka. Orang tua haruslah menyempatkan diri menemani
anak-anak dengan keteraturan dan perhatian sepenuh hati.
Menjadi
bahan renungan bersama, waktu dan bentuk perhatian kepada anak. Asisten rumah
tangga bisa jadi memperhatikan anak asuhnya bila orang tuanya ada di
sampingnya. Sedangkan saat orang tua jauh darinya, mereka kadang lebih asyik
dengan pekerjan lainnya. Sehingga belum tentu perhatian yang diberikan itu sesuai
dengan yang kita harapkan. Contoh kasus cukup mengerikan di sekitar kita. Babby
sister menyiksa bayi majikannya http://m.tribunnews.com/2008/01/29.
Dan lain sebaginya cukup banyak kasus yang terjadi.
Jaman
now, yang dominan dengan kemajuan alat komunikasi yang canggih juga tidak
berarti semua sibuk dengan gadgednya masing-masing. Janganlah terjadi suasana aneh di rumah kita. Mata tak berkedip,
telinga tak mendengar bakan hati tidak terespon dengan panggilan orang tua bagi
anak. Atau orang tua lebih memperhatikan handpone dan mengejar uang tanpa
menghiraukan tangis dan ungkapan anak.
Orang
tua janganlah meniru kasus masa lalu yang menjadi catatan sejarah pada masa
Umar Ibnul hottob. Orang sudah kebingungan menghadapi tingkah laku anaknya.
Namun ternyata kesalahan utama adalah pada diri orang tua tersebut.
Dalam
satu riwayat dikisahkan ada seorang Bapak
dan anaknya yang menemui Kholifah
Umar Ibnul Khottob kemudian mengadukan tentang anaknya yang durhaka . Kemudian Kholifah Umar menegur si anak.
Umar Ra: “tidakkah
kamu tau bahwa durhaka kepada orang tua merupakan hal yang mengundang murka
ALLah? bisa membuat kerugian yang besar
?”.
Anak : “Wahai
Amirul Mukminin, jangan tergesa gesa mengadiliku, jika seorang ayah mempunyai
hak terhadap anaknya, bukankah anak juga punya hak terhadap ayahnya ?”.
Umar Ra : “ya benar “
Anak :
“apa hak anak terhadap ayah , wahai amirul mukminin ?”
Umar ra : “ada tiga, yaitu p ertma hendaklah ia memilih
calon ibu yang baik bagi putranya, kedua, henhaklah ia menamainya dengan
nama yang baik, dan yang ketiga hendaklah ia mengajarkan Alquran.”
Anak : “Wahai amitrul mukminin , ayahku tidak
melakukan satupun dari tiga hal tersebut.
Ia
tidak memilih calon ibu yang baik bagiku, ibuku adalah seorang hamba sahaya
yang buruk yang dibeli dipasar seharga dua dirham (semodel pelacur). Setelah
lahirpun ayah menamaiku -Ju’al.(sejenis kumbang yang yang berkubang pada
kotoran ) dan dia tidak pernah mengajariku al Quran walau satu ayatpun.”
Umar Ibnul Khottob ra menghampiri ayahnya dan
berkata “Engkaulah yang mendurhaikanya sewaktu ia kecil, pantaslah kalau anak
itu mendurhaikaimu sekarang.”
Demikian
juga di sekolah. Jika komunikasi orang tua siswa dengan pihak sekolah berjalan
baik, maka anak akan mendapatkan perhatian dari kedua belah pihak dengan baik.
Jika ada masalah pada anak maka akan lebih cepat dapat terselesaikan oleh
keduanya. Tetapi jika orang tua hanya menyerahkan kepada sekolah, sangat
dimungkinkan anak akan mencari pehatian ke tempat lain. Mereka dapat membentuk
kelompok kelompok tertentu. Kelompok ini adakalanya positif dan ada kalanya
negatif. Bahayanya jika kelompok yang diikutinya adalah negatif, maka suatu
saat orang tua akan merasakan dampaknya. ‘Anak polah bopo kepradah’.